in indonesia, enjoy.

gue selalu punya sesuatu untuk diceritakan, kali ini gue punya opini sendiri (pastinya bias, don’t take it personally) tentang platform LinkedIn.

terkenal sebagai platform untuk cari kerja, pamer pencapaian, segala sesuatu yang baik dalam karir seseorang, i mean its good, gue pun termotivasi ketika melihat seseorang berhasil akan sesuatu, rasanya pengen kayak dia deh jadi orang hebat! tapi di sisi lain, gue sering merasa terhimpit dadanya kalau buka LinkedIn.

kenapa? dibalik pencapaian besar orang lain, dan gue sendiri, jarang dari kita (atau krn lingkup connection gue sedikit jd belum nemu?) mengekspos sisi lemah, yang mana pasti ada.

gue gak bermaksud untuk mengharapkan sebuah postingan berisi gue baperan sensitif dan kurang bisa kerja sama karena gue perfeksionis, or something. kelemahan yang dimaksud adalah proses susahnya ketika mencapai apa yang udah lo genggam sekarang, perasaan capek mental dan tenggelam di pikiran sendiri.

gue pengen menonjolkan sisi manusia di balik hebatnya seseorang.

lo udah gagal berapa kali, udah kena mental berapa kali, udah tipes berapa kali, biar kita tau kalau oh, dibalik suksesnya dia ternyata usahanya sebegitu berat ya. ya meskipun no one owe someone an explanation, akan lebih baik kalau kita berani menampilkan sisi vulnerable dalam diri sendiri.

on the other hand, pastinya bikin si pembaca nanti merasa gak sendirian dalam proses mencapai kesuksesan, karena orang lain yang sekarang ada di level 10 pun dulu pernah jatoh ke jurang berkali-kali di level 3 atau 4. we know the sacrifice, and i feel like we are all the same, we are human.

its a big bullshit for me kalau ada motivator bilang sesuatu bisa dimulai dengan semangat dan passion aja.

i take my part, untuk gue sendiri gue termasuk orang yang rentan merasakan capek mental, karena gue termasuk orang yang sensitif, juga gampang menyerap energi dan kehilangan.

di tahun 2021 ini, setelah berhasil terseok-seok di semester enam, akhirnya gue tumbang secara mental, gue nggak bisa terhubung dengan diri gue sendiri, dan nggak menemukan kemampuan untuk melakukan sesuatu yang gue cintai, re: nonton film, lukis, bahkan menulis kayak gini, even ngobrol sama temen aja gue gak mau, capek, banyak orang yg gue ghosting pas itu.

ada beberapa faktor yang bikin gue payah di akhir, 1) kasus pandemi naik bgt, makin merasa gak punya masa depan yang baik buat pendidikan dan Indonesia, 2) gue udah semester akhir, merasa kurang pengalaman dll, apalagi gue gak suka sama basis jurusan gue yg mana pendidikan, 3) gue selalu keras sama diri sendiri, punya mindset kalo lo istirahat banyak kesempatan yang lo lewatin

di tengah kelinglungan mau istirahat vs mau ambis selagi libur pun muncul perang batin, sambil memperlambat ritme hidup, gue gak mau ketinggalan daftar magang sana sini, di satu sisi gue berharap lolos, tapi di sisi lain gue berharap digantung, krn memberi kesempatan buat istirahat scr implisit

ding dong! lolos tahap admin di salah satu media startup. seneng dong pasti, tapi syarat untuk lanjut ke tahap selanjutnya ya ngerjain artikel, pas riset gue masih semangat, pas outline lancar aja, tiba di eksekusi depan laptop, gue mulai susah nafas dan sering zoned out, 12 jam gue abisin buat milih kata dan cuma menghasilkan satu paragraf yang isinya lima baris

bukan males, kalo males masih bisa gue lawan, ini beda, gue capek, gue gak mampu buat nulis, gue kayak kehilangan kemampuan yang selama ini udah gue pelajari.

p.s: gue nulis ini tanpa outline, lancar aja karena secara mental gue siap dan ada, beda halnya kemarin pas ngerjain tugas artikelnya.

akhirnya dua sisi dalam diri gue bergejolak lagi,

sisi keras: lo gimana sih, doi kan udah lo incer dari lama, lo pernah daftar dulu kan tp gak lolos, nah sekarang lo lolos ya ayo dong semangat kerjain! sayang bgt kalo lo lepas! jangan nyerah, katanya you’re not a quitter!

sisi lembut: gapapa yuk lepas, selalu ada kesempatan di lain hari dan gak harus kesempatan lo ambil sekarang juga, timingnya gak pas, magang bakal selalu tersedia, yuk istirahat.

gue alhasil nangis, linglung, merasa kasian sama diri sendiri karena terlalu ambis tp di sisi lain gue pengen kejar terus tapi gue juga gak mampu, gue payah bgt waktu itu.

setelah berhari-hari, dan setelah bilang ke tim gue minta cuti (tim kerjaan), sedikit demi sedikit gue mulai buka pintu untuk menyerah, iya nyerah sama keadaan, berhenti ambis sebentar.

dua minggu gue minta cuti, tahap tulis artikel gue lepas, gue berusaha cari jalan untuk connecting sama diri gue lagi.

yes this is me

setelah akhirnya gue mendeklarasikan kemenangan buat sisi lembut, mau gak mau sisi keras ngalah. finally, at peace. istirahat.

konsisten dengan apa yang gue lakuin selama dua minggu (lepas kerjaan, laptop, gak cari lowongan magang dll) kurang dari dua minggu gue mulai merasakan kehadiran diri gue lagi, ini dia si petakilan dan bacot muncul lagi.

dan gue daftar magang, gue selesai tahap tulis artikel, lolos interview, dan akhirnya keterima, mulai muncul lagi ke permukaan media sosial dengan kegiatan gue sehari-hari.

apa orang tau pas gue lagi sekarat perang sama diri sendiri? nggak. mereka tau apa yang gue tampilkan aja, ya ini, si bacot dan petakilan.

that’s my point. selalu ada fase susah di setiap orang, and i want you to be brave to embrace it, accept it as a part of yourself, part of your journey, tell people your story just so they don’t fell alone, they relate to you and we all do.

in the end, we only human, we need time to take a break from everything.

it’s okay to take a step back. it’s okay to give up.

its kind of personal i guess

its kind of personal i guess